728x90 AdSpace

Latest News
Jumat, 20 Juni 2014

Dasar Pemberlakuan Wudhu Dan Keutamaannya

Rahim Tabet | 03.30 | | |
Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa wudhu’ merupakan (cara bersuci) dengan menggunakan air, yang berhubungan dengan muka, kedua tangan, kepala dan kedua kaki.

Penjelasan lebih lanjut mengenai wudhu sebagaimana berikut:

Dasar Diberlakukannya Wudhu

Wudhu merupakan suatu perbuatan yang disyariatkan berdasarkan pada dalil berikut:

Dari Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (Al Maidah: 6)

Dari hadits, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh meriwayatkan bahwa, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Shalat salah seorang di antara kalian tidak (akan) diterima apabila ia masih berhadas, sampai ia wudhu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi)[1]

Dari Ijma’ (Kesepakatan para ulama), kaum Muslimin sepakat tentang disyariatkannya wudhu’ sejak masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai sekarang. Karenanya, wudhu merupakan perintah yang harus diketahui.

Keutamaan Wudhu

Ada beberapa hadits yang menjellaskan tentang keutamaan wudhu, di antaranya:

a. Dari Ash Shanabiji, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda

“Apabila seorang Mukmin berwudhu, lalu berkumur-kumur, maka dosa-dosanya keluar dari mulutnya. Jika ia membersihkan hidung dengan memasukkan air ke dalamnya, maka dosa-dosanya keluar dari hidungnya. Jika ia membasuh mukanyaa-dosanya keluar dari mukanya hingga dari bawah kelopak kedua matanya. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosanya keluar hingga  dari bawah kukunya. Jika ia mengusap kepalanya, maka dosa-dosanya keluar dari kepalanya hingga dari kedua telinganya. Jika ia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosanya keluar darinya, hingga dari bawah kuku-kuku kakinya. Kemudian perjalannya menuju Masjid dan shalatnya menjadi pahala tambahan baginya.” (HR Malik, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim)[2]

b. Dari Anas Radhiyallahu ‘Anh, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda,

“Sesungguhnya perkara yang baik yang ada pada diri seseorang, adalah apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki amalnya secara keseluruhan. Dan dengan bersucinya seseorang untuk shalatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan shalatnya tetap mendapat pahala.” (HR Abu Ya’la, Al Bazzar, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath)[3]

c. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan-amalan yang akan menghapuskan segala dosa-dosa dan yang dapat meninggikan derajat?”


Sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”

Beliau lantas bersabda,

“Yaitu menyempurkan wudhu meskipun dalam keadaan yang sulit, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat. Itulah bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!” (HR Malik, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)[4]

d. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, suatu ketika, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Mendatangi pekuburan, lantas beliau mengucapkan,

“Salam sejahtera tempat persinggahan kaum mukminin! Insya Allah, kami akan menyusul kalian. Aku senang sekiranya aku melihatt saudara-saudaraku sekarang iri.”

Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini termasuk saudara-saudaramu juga, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Kaliannya adalah sahabat-sahabatku, tapi saudara-saudaraku itu belum muncul sampai saat ini.”


Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimanakah engkau mengetahui keadaan umatmu yang belum muncul itu, wahai Rasulullah?”

“Bagaimana pendapatmu, sekiranya ada seorang laki-laki mempunyai seekor kuda putih yang berada di tengah-tengah kuda yang berwarna hitam pekat, bukankah ia dapat mengenali kudanya?”


Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!”

Lantas beliau bersabda,

“Sesungguhnya mereka datang dalam keadaan bersinar yang terpancar dari bekas wushunya. Dan aku akan membimbing mereka menuju telaga. Ketahuilah bahwa terdapat segolongan orang yang dijauhkan dari telagaku, sebagaimana seekor unta tersesat yang dihalau supaya menjauh. Ketika itu, aku panggil mereka, ‘Datanglah ke sini!’ Namun, tidak lama kemudian terdengar suara yang berkata, ‘Mereka adalah golongan yang menyeleweng dari agamamu setelah kamu meninggal dunia.’ Pada saat mendengar itu, aku balik berkata kepada mereka, ‘Menjauhlah dariku! Menjauhlah dariku!’” (HR Muslim)[5]


[1] HR Bukhari, kitab Al Hiyal, bab Fi Ash Shalah, jilid IX, hal 29. Muslim kitab Ath Thaharah, bab Wujub Ath Thaharah li Ash Shalah [2] jilid 1, hal 204. Abu Dawud kitab Ath Thaharah, bab Fardh Al Wudhu’ [60] jilid 1, hal 49. Tirmidzi dalam kitab Abwab Ath Thaharah, bab Ma Ja’a fi Wudhu min Ar Rih [76] jilid 1, hal 110 dan beliau berkata, “Hadits ini gharib, hasan lagi shahih.”

[2] HR Malik dalam kitab Al Muwaththa’, jilid 1, hal 53, cet Shahih. Nasa’i dari Umamah dalam kitab Ath Thaharah, bab Tsawab man Tawadhdha’ kama Umira [147], jilid 1, hal 91. Ibnu Majah kitab Ath Thaharah, bab Tsawab Ath Thuhuhur [282] , jilid 1, hal 103. Mustadrak Al Hakim jilid 1, hal 129-130, dan beliau berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkannya. Ia diklasifikasikan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ [449]. Shahih At Targhib [180]

[3] Dalam Az Zawa’id dinyatakan, hadits ini diriwayatkan Abu Ya’la, Al Bazzar, dan Thabrani dalam kitab Al Ausath. Dalam sanadnya, terdapat Basyar bin Al Hakam. Hadits ini diklasifikasikan dha’if oleh Abu Zir’ah dan Ibnu Hibban. Ibnu Adi berkata, “Saya berharap bahwa hadits ini tidak mempunyaimbanyak masalah.” Majma’ Az Zawa’id, jilid 1, halaman 230, hadits ini dha’if. Al Albani mengklasifikasikannya sebagai hadits dha’if dalam Dha’if Al Jami’ [1438]. Ad Dhaifah [2999].

[4] HR Muslim kitab Ath Thaharah, bab Fadhl Isbagh al Wudhu’ ‘ala Al Makarih [41] jilid 1, hal 129. Nasa’i kitab Ath Thaharah, bab Al Fadhl fi Dzalik ay fi Isbagh Al Wudhu’ [143] jilid 1, hal 89-90. Tirmidzi kitab Abwab Ath Thaharah bab Ma Ja’a fi Isbagh Al Wudhu [51] jildi 1 hal 73. Ibnu Majah kitab Ath Thaharah, bab Ma Ja’a fi Isbagh Al Wudhu [427] jilid 1 hal 148 dari Abu Sa’id Al Khudri.

[5] HR Muslim kitab Ath Thaharah, bab Istishab Ithalah Al Ghurrah wa At Tahjil fi Al Wudhu [39] jilid 1 hal 218.






Beberapa judul artikel dibawah ini mungkin akan dapat melengkapi informasi yang Anda butuhkan. Untuk menyebarkan informasi bermanfaat ini, Anda dapat share ke beberapa media sosial dengan klik pada icon media sosial yang kami sertakan pada bagian bawah. Anda juga dapat meng-copy artikel ini dengan menyertakan link dari artikel ini



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Dasar Pemberlakuan Wudhu Dan Keutamaannya Rating: 5 Reviewed By: Rahim Tabet